Perkembangan rumah kost di Surabaya tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang kota ini sebagai pusat pendidikan, perdagangan, dan mobilitas penduduk. Pada awalnya, konsep kost tumbuh dari budaya saling menampung di lingkungan perumahan, ketika keluarga-keluarga setempat membuka kamar kosong di rumah mereka untuk disewakan kepada pendatang, terutama mahasiswa dari luar kota. Pada era 1970 hingga 1980-an, kost di Surabaya masih sangat sederhana, umumnya hanya berupa satu kamar dengan furnitur dasar, fasilitas bersama, dan hubungan yang sangat dekat antara pemilik rumah dan penyewa. Lokasinya pun terpusat di sekitar kampus-kampus besar yang telah eksis sejak lama, seperti Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Memasuki dekade 1990-an, Surabaya mulai mengalami pertumbuhan pendidikan yang pesat. Jumlah perguruan tinggi bertambah, mahasiswa dari luar daerah meningkat, dan kebutuhan akan hunian sementara menjadi semakin besar. Dari sinilah muncul gelombang baru pembangunan rumah kost yang lebih terstruktur. Banyak pemilik lahan mulai membangun gedung khusus kost dengan jumlah kamar lebih banyak dan fasilitas lebih memadai. Di kawasan seperti Keputih, Gebang, Dharmawangsa, Manyar, dan Nginden, rumah kost mulai berkembang menjadi deretan bangunan bertingkat yang dibuat khusus untuk menampung ratusan mahasiswa setiap tahunnya. Pergerakan ini menjadi fondasi bagi pertumbuhan masif kost di Surabaya Timur pada tahun-tahun berikutnya.
Ketika Surabaya memasuki era urbanisasi pada awal tahun 2000-an, perkembangan rumah kost meluas dari sekadar kebutuhan mahasiswa menjadi kebutuhan berbagai kalangan yang merantau untuk bekerja. Pertumbuhan sektor bisnis, perkantoran, dan industri di berbagai wilayah kota menciptakan segmentasi baru bagi penghuni kost, mulai dari pekerja kantoran, staf industri kreatif dan teknologi, hingga tenaga medis yang bekerja di rumah sakit besar. Surabaya Timur tetap menjadi magnet utama, namun wilayah-wilayah baru mulai menonjol. Surabaya Barat misalnya, berkembang sebagai kawasan hunian modern dengan munculnya rumah kost eksklusif yang menyasar mahasiswa UK Petra, UNESA Lidah Wetan, serta para pekerja muda yang menetap di kawasan perumahan elit seperti Citraland dan Pakuwon.
Sementara itu, Surabaya Selatan mengalami perkembangan yang lebih tenang namun stabil. Daerah seperti Jemursari, Ketintang, Wonokromo, dan kawasan industri SIER menjadi tujuan utama bagi karyawan yang membutuhkan hunian praktis dekat tempat kerja. Rumah kost di wilayah ini cenderung menawarkan fasilitas standar dengan kenyamanan yang cukup bagi pekerja yang menghabiskan hari-hari mereka di kantor atau pabrik. Pertumbuhan yang terjadi bukanlah perluasan masif seperti di Timur, tetapi lebih kepada penambahan unit kost baru yang mengikuti kebutuhan ekonomi perkotaan.
Berbeda dengan wilayah lain, Surabaya Pusat menghadapi keterbatasan lahan yang cukup signifikan. Namun, meski tidak mengalami pertumbuhan pesat, kawasan ini tetap menjadi lokasi penting bagi rumah kost yang menyasar pekerja sektor jasa dan perkantoran. Banyak bangunan lama di kawasan Genteng, Tegalsari, Blauran, dan sekitar Tunjungan kemudian dialihfungsikan menjadi rumah kost modern dengan fasilitas lebih lengkap. Ketersediaan akses transportasi dan kedekatan dengan pusat bisnis membuat kost di wilayah ini tetap diminati meski harga sewanya lebih tinggi.
Surabaya Utara menunjukkan dinamika perkembangan yang berbeda. Wilayah ini didominasi lingkungan industri dan permukiman padat, sehingga rumah kost yang tumbuh di sini umumnya sederhana dan lebih ditujukan untuk pekerja harian atau buruh pabrik yang membutuhkan hunian murah. Pertumbuhan tetap ada, tetapi berlangsung perlahan karena penyewa di kawasan ini lebih mengutamakan harga ekonomis daripada fasilitas tambahan.
Memasuki tahun 2010-an hingga sekarang, perkembangan rumah kost di Surabaya mengalami transformasi besar. Munculnya konsep kost eksklusif dan kost berkonsep coliving menghadirkan standar baru dalam dunia hunian sewa. Banyak bangunan kost kini dilengkapi AC, Wi-Fi cepat, CCTV, dapur bersama, area komunal, hingga layanan kebersihan. Kawasan MERR di Surabaya Timur dan perumahan modern di Surabaya Barat menjadi pusat kemunculan kost-kost modern ini. Selain itu, peran teknologi semakin mempercepat pertumbuhan sektor ini. Calon penghuni kini dapat mencari, memesan, dan membayar kost melalui platform digital, sementara banyak pemilik kost mulai mengadopsi smart-lock, pemantauan online, dan kontrak digital untuk mempermudah pengelolaan.
Jika melihat gambaran keseluruhan, Surabaya Timur tetap menjadi kawasan dengan pertumbuhan rumah kost paling pesat, baik dari sisi jumlah unit maupun variasi fasilitas. Surabaya Barat berkembang cepat dalam segmen eksklusif dan modern. Surabaya Selatan tumbuh stabil mengikuti kebutuhan karyawan dan industri. Surabaya Pusat mempertahankan perkembangan secara terbatas tetapi konsisten. Dan Surabaya Utara menjadi wilayah dengan pertumbuhan paling lambat karena faktor sosial-ekonomi dan karakter kawasan industri.
Sejarah panjang ini menggambarkan bagaimana rumah kost berkembang dari usaha rumahan sederhana menjadi bagian penting dari ekosistem urban di Surabaya. Perjalanan kost di kota ini adalah cerminan perubahan sosial, pertumbuhan pendidikan, perkembangan bisnis, dan transformasi ruang kota yang terus berlangsung. Dan melihat peningkatan mobilitas penduduk serta pertumbuhan sektor ekonomi, perkembangan rumah kost di Surabaya tampaknya akan terus melaju, mengikuti arah perubahan zaman dan kebutuhan generasi baru yang datang dan pergi setiap tahunnya.